Asah Kemampuan Berempati Sejak Dini dan Kursus IELTS Ketika Besar

sat-jakarta.com – Asah Kemampuan Berempati Sejak Dini dan Kursus IELTS Ketika Besar. Tempat kursus IELTS terbaik di Jakarta akan membantu anak ketika ingin melanjutkan studi di luar negeri.

Pada dasarnya, sejak usia batita, anak-anak sudah mempunyai kemampuan untuk berempati. Banyak penelitian menunjukkan hal ini. Misal, ada seseorang yang sedang membawa banyak buku mengalami kesulitan membuka pintu. Lalu, seorang anak batita yang saat itu sedang bersama orangtuanya, tanpa diberitahu dan diminta pun, si batita ini mempunyai keinginan membantu dengan membuka pintu.

Juga, ketika buku tersebut jatuh, ia pun berusaha untuk mengambilkan buku itu. Sayangnya, banyak orangtua dan pendidik yang belum mengetahui hal ini sehingga kecerdasan emosi belum diajarkan kepada anak-anak usia dini ini.

Terpapar Layar Monitor Gangguan Bahasa Didapat

Menurut American Academy of Pediatrics, ada bukti kuat bah wa anak yang sudah terpapar layar monitor sebelum usia 2 ta hun akan mengalami gangguan dalam perkembangan bahasa, membaca, dan daya ingat jangka pendek. Penelitian DeLoache dkk pada 2010 medapatkan fakta, tidak ditemukan munculnya kata-kata baru yang dipelajari dari program video yang diran cang untuk meningkatkan kosakata anak usia 12/18 bulan.

Fakta lainnya, stimulus yang diperoleh anak usia di bawah 3 tahun dari layar belum dapat mereka pahami. Stimulus dari layar tak bisa memberikan interaksi dua arah pada anak, tidak ada sa ling pandang, anak tidak dapat belajar membaca ekspresi, dan yang terpenting: merasakan afeksi dari lawan bicaranya me lalui nada bicara serta bahasa tubuh.

Padahal, anak-anak terlahir untuk berinteraksi dengan manusia dan belajar melalui interaksi tersebut. Kesimpulannya? Hindarkan Gadget apapun untuk anak di bawah 2 tahun. Sedangkan untuk anak menjelang atau di atas 3 tahun, games tertentu seperti permainan konstruktif dapat menstimulasi aspek kognitifnya.

Dilema Ayah Bekerja

Menurut dua riset yang dilakukan oleh Pew Research Center, kebanyakan mama kembali bekerja sebelum masa cuti melahirkannya usai, sementara semakin banyak papa yang diliputi rasa bersalah karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, terutama dua tahun pertama usia anak. Dari kebanyakan papa yang menganggap dirinya kurang banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak, hanya 49% yang menganggap dirinya sebagai orangtua yang baik. Nah, bagaimana dengan Papa?

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *