Nama Wakil Presiden Jusuf Kalla dibawa-bawa

”Padahal, sejak 1986, kami selalu membayar pajak tanah itu.” Pada medio 2005, Satria Kamal Gautama Purwanegara, anak Solihin, menggugat Badan Pertanahan Nasional Makassar karena menerbitkan 15 sertifikat hak milik atas nama orang lain ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Dari 15 sertifikat tersebut, 10 di antaranya atas nama Said Sadikin. Solihin berhasil menang dalam gugatan tersebut sampai tingkat peninjauan kembali, yang putusannya keluar pada Maret 2009. Namun, setelah melewati upaya hukum luar biasa itu, sengketa lahan tak juga berakhir. Setelah putusan tersebut, giliran pemilik sertifikat tanah yang kalah menggugat ke PTUN. Gugatan kali ini juga berjalan sampai ke tingkat peninjauan kembali.

Pada Januari 2013, Mahkamah Agung kembali memenangkan kubu Solihin. Selanjutnya, BPN Sulawesi Selatan menerbitkan surat pembatalan seluruh sertifikat hak milik yang digugat Solihin. Namun, pada April 2013, Andre D. Pasila dan Arni T. Pasila anak Abraham Pasila menggugat keputusan BPN Sulawesi Selatan ke PTUN Makassar. Solihin turut menjadi tergugat intervensi. Namun kubu Solihin kembali menang. Seiring dengan gugatan di pengadilan, Andre Pasila melaporkan Satria Kamal ke Kepolisian Resor Kota Besar Makassar. Andre menuduh Satria menggunakan surat palsu untuk menguasai tanah. Namun polisi menyatakan tak cukup bukti untuk menaikkan status Satria menjadi tersangka. Pada akhir 2013, keluarga Said Sadikin yang menetap di Jawa Barat berniat menjual tanah tersebut. Salah seorang ahli waris pun diutus ke Makassar untuk mengurus sertifikat tanah.

Rupanya, menurut Syamsul, tanpa setahu keluarga Said Sadikin, Abraham Pasila telah memecah tanah itu menjadi enam sertifikat hak milik. Bahkan beberapa di antaranya atas nama keluarga Sadikin. Keluarga Abraham Pasila pun telah menjual tanah tersebut. Atas nama keluarga Sadikin, Syamsul melaporkan Andre Pasila ke Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan pada medio 2014 dengan tuduhan pemalsuan surat tanah. Polisi telah menetapkan Andre sebagai tersangka. Perkara pidana ini mulai disidangkan Pengadilan Negeri Makassar. Pada April 2015, Denny Sadikin menggugat Solihin secara perdata ke Pengadilan Negeri Makassar.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *