Pemerintah Suriah Menguasai Kembali Aleppo Bag2

Belum lagi lubang-lu bang yang sengaja dibikin untuk menghadapkan moncong senapan ke arah lawan. Itu kondisi empat tahun lalu. Sekarang, setelah perang kian ganas menjangkiti seluruh Aleppo, tentu keadaan situs warisan dunia versi lembaga kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO, itu lebih buruk. Perang membuat sejarah di sana lenyap, hampir tanpa bukti. Kehancuran Aleppo jelas terlihat dari video yang dilansir Guardian pada akhir September lalu.

Kota yang sebelumnya sangat gagah, historis, sekaligus modern itu kini tak lebih dari kumpulan reruntuhan yang menunggu ”dimakamkan” oleh serangan udara. Tak perlu ada lagi nama jalan di Aleppo. Saya teringat ucapan seorang wartawan asal Prancis saat kami sama-sama beristirahat di Turki. ”Ini perang terparah yang pernah saya liput. Begitu brutal,” katanya. Sejak perang di Aleppo dimulai, tak ada tempat aman lagi di sana.

Empat tahun lalu, masih dalam rangka gencatan senjata memperingati Idul Adha, saya dan Abdul Qader Haj Othman menyusuri jalan di Bustan al-Basha. Di tengah kegelapan, langit riuh oleh suara tembakan. Di beberapa simpang jalan, Abdul Qader mengajak saya berlari kencang atau berjalan sambil membungkuk meskipun tubuh terhalang bus yang diparkir di perempatan. ”Ada sniper di ujung sana,” ujarnya. Dan begitu banyak ruas jalan yang harus dilewati sambil berharap tubuh tak terserempet peluru.

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *