Sepotong Sore di Z5

ZINEDINE Zidane, 43 tahun, awalnya ingin menghadirkan kompleks olahraga megah yang dekat dengan La Castellane, Marseille, tempatnya menjalani masa kecil. Namun, karena kendala teknis dan masalah perizinan, ia akhirnya membangunnya di Les Milles, Aix-en-Provence, 25 kilometer dari Marseille. Sabtu sore akhir Mei lalu, Tempo menyambangi kompleks yang diberi nama Z5 itu. Terletak di tengah area datar yang dihiasi rumput menguning terbakar matahari, tempat yang terdiri atas tiga bangunan abu-abu gelap itu tampak mencolok dibanding lingkungan sekitarnya. Di bagian depan bangunan itu, terpahat Z5, yang merupakan gabungan inisial Zidane dan nomor punggungnya saat masih bermain di Real Madrid, juga menunjukkan fasilitas lapangan bola di sana yang hanya untuk lima pemain per tim (futsal).

Website : kota-bunga.net

Sore itu, suasana tampak sepi. Lapangan pun hanya satu yang terisi. ”Kompleks ini biasanya penuh menjelang malam, saat orang baru pulang kerja atau kalau ada acara nonton bareng,” kata seorang gadis yang berada di balik meja penerima tamu. Ia mempersilakan Tempo berkeliling kompleks yang menghabiskan dana sekitar 7 juta euro atau sekitar Rp 90 miliar itu. Z5 yang menempati lahan 3.000 meter persegi itu didesain arsitek Christophe Gulizzi dengan konsep minimalis kontemporer. Kompleks yang disponsori Adidas ini terbilang lengkap. Selain lapangan bola terbuka dan tertutup, ada restoran, butik Adidas, kamar sauna, klinik dokter, dan ruang resepsi. Kompleks itu diresmikan pada Juni 2011. Kini Zidane juga punya fasilitas serupa di Paris (Z5 Paris Bois Sénart dan Z5 Paris Meaux) serta di Italia (Z5 Turin). Kamel Kourane, yang menerima Tempo hari itu, menjelaskan bahwa Z5 Group dikelola sepenuhnya oleh tiga kakak Zidane, yaitu Farid, Noureddine, dan Lila.

Kakak tertuanya, Madjid, tidak banyak terlibat karena bekerja sebagai koordinator di kolam renang regional di Marseille. Selain membidik pengguna dari seputar lokasi, Z5 membuka diri terhadap Nouvelle Vague, klub asal La Castellane. Mereka mempersilakan anggota klub itu berlatih gratis di tempat ini. Itu tak mengherankan karena Zizou memang terkait erat dengan klub tersebut. Ia dan Farid ikut menghidupkan kembali klub itu pada 1992. Ia juga masih menjabat presiden kehormatan hingga saat ini. Klub itu sempat sukses menarik banyak anggota pada 2000- an. Namun, belakangan, perkembangannya terhambat karena ketiadaan lapangan untuk berlatih. Karena itu, fasilitas latihan gratis di Z5 sangat membantu.

Sayang, jaraknya yang cukup jauh menyulitkan anggota klub. Masalah lain, para anggota klub juga harus bergulat dengan tuntutan ekonomi dan pengaruh pergaulan sosial di La Castellane. ”Banyak yang sering absen karena harus nyambi jadi pengedar obat,” ujar Ghilas Larbi, salah seorang pelatih klub itu, yang ditemui di Z5. Kondisi di La Castellane memang tak membaik. Sepuluh tahun lalu, hanya ada dua gembong yang berkuasa di La Castellane. ”Sekarang sudah ada 12,” kata Kourane. Karena kondisi itu pula Larbi dan Kourane memutuskan keluar dari La Castellane dan memboyong keluarga mereka ke daerah L’Estaque. Keluarga Zidane sendiri sudah lama pindah ke Les Pennes-Mirabeau. Setelah terpisah-pisah, di kompleks Z5 mereka bisa tetap bertemu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *