Categories
News

Transisi Pengelolaan Blok Rokan Dipercepat

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pengelolaan Blok Rokan oleh operator baru, PT Pertamina (Persero), bisa menambah produksi minyak nasional. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi, Djoko Siswanto, mengemukakan Pertamina bisa berpartisipasi dalam kegiatan pengeboran di Blok Rokan mulai tahun depan. Keikutsertaan ini bisa dimulai saat perseroan membahas rencana kerja dan anggaran biaya (work plan and budget) bersama Chevron pada 2019. “Nanti Pertamina ikut (membahas) work plan and budget dulu. Nanti 2019 bisa ngebor,” ujar dia, kemarin. Keputusan ini terhitung cepat dibanding masa transisi Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie ke Pertamina. Di Mahakam, perusahaan minyak milik pemerintah itu baru bisa ikut serta mendanai pengeboran lapangan gas pada 2017 atau setahun sebelum kontraknya dimulai. Di Blok Rokan, Pertamina harus berunding untuk menyepakati kesepakatan transisi bersama Chevron. Nantinya, hasil perundingan akan menjadi bekal perusahaan migas asal Amerika Serikat itu untuk mengamendemen kontrak. Selain itu, Pertamina harus membayar biaya atas pengeboran yang disepakati di ladang minyak terbesar di Indonesia ini.

Keputusan penyerahan Blok Rokan terbit setelah Pertamina dan Chevron bersaing dalam proposal pengelolaan yang diajukan sejak bulan lalu. Menurut Wakil Menteri Energi Arcandra Tahar, Pertamina lebih unggul dalam hal besaran bonus tanda tangan sebesar US$ 784 juta dan komitmen kerja pasti sebesar US$ 500 juta. Saat ini, kata Arcandra, pemerintah sudah menyepakati syarat dan ketentuan operasi lapangan Rokan bersama Pertamina. Bagi hasil dibagi secara bruto melalui skema gross split. Dia menuturkan, pemerintah memberi jatah lebih besar di Lapangan Duri karena minyaknya tergolong heavy crude oil, yang banyak mengandung logam dan belerang sehingga keekonomiannya lebih rendah. Sekretaris Perusahaan Pertamina, Syahrial Mukhtar, mengatakan akan segera membicarakan proses transisi bersama Chevron.

“Kami pasti akan membicarakan langkah ini bersama Chevron,” kata dia. Guna menjaga produksi, Pertamina akan mencari sumber daya baru di 7.000 titik eksplorasi di Rokan. Perusahaan juga akan melanjutkan proyek pengurasan minyak yang dimulai Chevron. Kebutuhan dananya diperkirakan mencapai US$ 70 miliar atau sekitar Rp 1.015 triliun. Juru bicara Chevron, Danya Dewanti, menolak memberikan komentar atas rencana pemerintah tersebut. Meski begitu, perusahaan menyatakan bakal melakukan segala cara untuk menjaga kelangsungan produksi.“Kami berkomitmen untuk melaksanakan program kerja untuk memenuhi target produksi,” ujar dia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *